Perencanaan
wilayah pesisir terpadu
Nama : Wita Puspita Sari
Npm : E1I012003
Prodi : Ilmu Kelautan Universitas
Bengkulu
Quis ke IV
Soal
1.
Buat dan jelaskan matrik kesesuaian
untuk budidaya perikanan atau ekowisata
2.
Apa yang dimaksud dengan daya dukung?
Jawaban :
1.
Kualitas lingkungan dan kesesuaian wisata Kajian Potensi Kawasan dan Kesesuaian
Ekosistem Terumbu Karang di Pulau Lara Untuk Pengembangan Ekowisata Bahari.
Tabel
2. Matriks kesesuaian lahan untuk ekowiisata bahari kategori wisata snorkeling
(Yulianda, 2007)
|
No
|
Parameter
|
Bobot
|
Kategori S1
|
Skor
|
Kategori S2
|
Skor
|
Kategori S3
|
Skor
|
Kategori N
|
Skor
|
|
1
|
Kecerahan perairan (%)
|
5
|
100
|
3
|
80 - <100
|
2
|
20 - <50
|
1
|
<20
|
0
|
|
2
|
Tutupan karang (%)
|
5
|
>75
|
3
|
>50 - 75
|
2
|
25 - 50
|
1
|
<25
|
0
|
|
3
|
Jumlah lifeform
|
3
|
>12
|
3
|
<7 - 12
|
2
|
4 - 7
|
1
|
<4
|
0
|
|
4
|
Jenis ikan karang
|
3
|
>50
|
3
|
30 - 50
|
2
|
10 - <30
|
1
|
<10
|
0
|
|
5
|
Kec. Arus (cm/dt)
|
1
|
0 - 15
|
3
|
>15 - 30
|
2
|
>30 - 50
|
1
|
>50
|
0
|
|
6
|
Kedalaman karang (m)
|
1
|
1 - 3
|
3
|
>3 - 6
|
2
|
>6 - 10
|
1
|
>10 <1
|
0
|
|
7
|
Lebar hamparan karang (m)
|
1
|
>500
|
3
|
>100 - 500
|
2
|
20 - 100
|
1
|
<20
|
0
|
Keterangan : - Jumlah = Skor
x bobot - Nilai maksimum = 54
Analisis
kesesuaian lahan dilakukan untuk mengetahui kesesuaian kawasan untuk
pengembangan wisata. Ini dilakukan untuk melihat kemampuan suatu wilayah dalam
mendukung kegiatan yang dilakukan dikawasan tersebut. Rumus yang digunakan
untuk kesesuaian wisata bahari menurut Yulianda (2007) adalah sebagai berikut :
IKW
= Σ[Ni/Nmaks] x 100%
dimana :
IKW = Indeks Kesesuaian Wisata;
Ni = Nilai Parameter Ke-I (bobot x
skor);
Nmaks = Nilai maksimum dari suatu
kategori wisata.
Dari hasil dari perhitungan indeks kesesuaian
wisata ini maka dapat dilihat kelas kesesuaian kawasannya (Yulianda, 2007)
dengan kategori sebagai berikut:
1. Sangat sesuai (S1)
: 83 – 100 % ;
2. Cukup sesuai (S2)
: 50 – <83 % ;
3. Sesuai bersyarat (S3) : 17 – <50 % ;
4. Tidak
sesuai (N) : <17 % .
Kondisi
topografi Pulau Lara merupakan pulau berbukit dan ditumbuhi hutan tropis dengan
tanaman keras yang masih alami. Pulau ini di kelilingi dengan batu cadas dengan
kondisi pantai yang curam kecuali disisi sebelah barat mempunyai pantai pasir
putih dengan panjang ± 160 m dan lebar sekitar 8 m. Pulau Lara tidak memiliki
penghuni, masyarakat hanya datang ke perairan di sekitar pulau ini untuk
memancing. Saat ini Pulau Lara juga sudah dijadikan sebagai salah satu tujuan
wisatawan lokal yang berasal dari kota kendari untuk rekreasi, umumnya kegiatan
yang mereka lakukan di pulau ini yakni berenang, duduk-duduk santai di pinggir
pantai yang terletak di sisi barat pulau sambil menikmati indahnya hamparan
laut dengan degradasi warna hijau hingga kebiruan serta pemandangan Gunung
Moramo dengan hutannya yang masih alami dan ada juga yang bersnorkeling.
Aksesibilitas
ke Pulau Lara cukup mudah, untuk menuju ke pulau ini dapat ditempuh dalam waktu
± 15 menit dari Desa Wawatu dengan menggunakan perahu bermotor bermuatan 15
orang dengan biaya yang ditawarkan Rp. 20.000,- per orang untuk setiap
penyebrangan. Sarana dan prasarana yang menunjang kegiatan wisata di pulau ini
masih sangat minim, belum tersedia sumber air bersih, dan rumah-rumah untuk
menyimpan barang-barang atau tempat bersantai juga belum ada.
Objek daya tarik wisata
Berdasarkan
hasil pengamatan di lapangan dan juga hasil wawancara dengan menggunakan
kuisioner terhadap pengunjung dan masyarakat yang pernah mengunjungi Pulau Lara
bahwa objek yang menjadi daya tarik bagi mereka untuk mengunjungi Pulau Lara
yakni panorama alam di kawasan pulau yang menawarkan berbagai macam objek mulai
dari suasana pulau, pantai berpasir putih, hingga keindahan terumbu karangnya.
Kondisi dari objek daya tarik wisata yang ada di Pulau Lara menurut para
responden dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Pendapat responden mengenai kondisi objek daya tarik
wisata pulau lara
|
|
Objek Daya Tarik Wisata
|
Kondisi
|
|||||||||||||
|
|
Buruk (%)
|
Sedang (%)
|
Baik (%)
|
Baik sekali (%)
|
|||||||||||
|
1
|
Panorama Alam
|
6,67
|
36,67
|
16,67
|
40,00
|
||||||||||
|
2
|
Perairan Jernih
|
6,67
|
6,67
|
23,33
|
46,67
|
23,33
|
|||||||||
|
3
|
Terumbu Karang
|
6,67
|
6,67
|
40,00
|
40,00
|
6,67
|
|||||||||
|
4
|
Pasir Putih
|
20,00
|
33,33
|
30,00
|
16,67
|
||||||||||
|
5
|
Vegetasi/tumbuhan darat
|
10,00
|
30,00
|
30,00
|
16,67
|
13,33
|
|||||||||
|
6
|
Keanekaragaman biota air
|
3,33
|
13,33
|
50,00
|
23,33
|
10,00
|
|||||||||
|
7
|
Cuaca
|
3,33
|
10,00
|
50,00
|
26,67
|
10,00
|
|||||||||
|
|
Padang Lamun
|
6,67
|
30,00
|
40,00
|
13,33
|
10,00
|
|||||||||
2.
Menurut Dahuri (2002) daya dukung disebut ultimate
constraint yang diperhadapkan pada biota dengan adanya keterbatasan
lingkungan seperti, ketersediaan makanan, ruang atau tempat berpijak, penyakit,
siklus predator, oksigen, temperatur, atau cahaya matahari.
Menurut UU
No. 27 Tahun 2007, Daya Dukung Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil adalah
kemampuan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil untuk mendukung perikehidupan
manusia dan makhluk hidup lain. Pulau-Pulau Kecil merupakan pengertian yang
terintegrasi satu dengan yang lainnya, baik secara fisik, ekologis, sosial,
budaya, maupun ekonomi dengan karakteristik sebagai berikut :
a.
Terpisah
dari pulau besar;
b.
Sangat
rentan terhadap perubahan yang disebabkan alam dan/atau disebabkan manusia;
c.
Memiliki
keterbatasan daya dukung pulau;
d.
Apabila
berpenghuni, penduduknya mempunyai kondisi sosial dan budaya yang khas;
e.
Ketergantungan
ekonomi lokal pada perkembangan ekonomi luar pulau, baik pulau induk maupun
kontinen.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar